Tuesday, April 04, 2006

Membangun Kekuatan untuk Perubahan

Membangun Kekuatan Politik Baru untuk Perubahan Yang Baru

Mencari alternatif kekuatan politik baru. Inilah gejala global kesadaran rakyat sekarang. Di Amerika Latin, sejumlah negara telah dipimpin oleh orang-orang atau kekuatan baru, yang diharapkan mampu memberikan perubahan kesejahteraan kepada rakyat. Melalui aksi-aksi revolusioner, rakyat menjatuhkan para pemimpin tradisional yang korup dan pro neoliberal, yang telah berkuasa puluhan tahun. Kemudian, melalui pemilihan umum, rakyat memilih figur-figur yang mengkampanyekan program anti neoliberal. Sebut saja Hugo Chavez, Lula da Silva, Evo Morales, Nestor Kricher, dll., semua mereka terpilih menjadi presiden karena janji melakukan langkah-langkah anti neoliberal yang kongkrit, seperti: meningkatkan subsidi pendidikan dan kesehatan, menasionalisasi perusahaan-perusahaan pertambangan dan energi, memangkas utang luar negeri, dan lain sebagainya. Contoh di Amerika Latin beberapa langkah lebih maju di bandingkan negara-negara lain di seluruh dunia. Di Eropa kecenderungan yang sama telah mendahului, misalnya kemenangan Partai Sosialis di Spanyol dan meningkatnya perolehan suara partai-partai kiri di sejumlah negara lain. Sementara di Timur Tengah, kita melihat kejadian yang serupa di Iran dan Palestina di mana kekuatan baru mematahkan dominasi kekuatan lama. Meski berada pada level yang berbeda, gejala pencarian alternatif ini terjadi juga di Indonesia. Dan gejala ini adalah suatu jalan obyektif yang tak terhindarkan, di tengah tekanan ekonomi neoliberal yang semakin menjadi-jadi.


Di Bawah Kekuasaan Rejim Neoliberal

Seperti yang diketahui, neoliberal adalah seperangkat kebijakan ekonomi politik yang ditujukan bagi kebebasan modal bertarung—dengan pemenangnya yang sudah jelas, yakni modal-modal besar. Dengan demikian, situasi ekonomi mengarah pada monopoli dalam skala dunia.

Sebenarnya, tidak sulit untuk mengenali apakah sebuah pemerintahan menjalankan praktek neoliberalisme atau tidak. Cukup dengan mencermati apakah dalam sebuah negeri ditemukan ciri khas dari praktek neoliberal berikut:(1)Penghapusan pengeluaran negara untuk kebutuhan sosial (pencabutan subsidi),(2)Liberalisasi perdagangan dengan penurunan atau pembebasan tarif masuk barang impor,(3) Liberalisasi investasi (baik investasi langsung maupun portofolio),(4) Privatisasi perusahaan-perusahaan negara, privatisasi sumber daya alam, yang kesemuanya itu didahuli oleh sebuah perangkap utang luar negeri.

Dampak-dampak penerapan kebijakan ini sangat jelas menyengsarakan rakyat, bahkan telah kita alami sehari-hari: harga barang kebutuhan yang melambung, upah yang ditekan, PHK dan pengangguran merajalela, produk pertanian kalah bersaing sehingga berangsur-angsur hancur, anak-anak putus sekolah, dan penyakit-penyakit yang menjangkiti rakyat miskin. Dampak lebih jauh lagi, negeri yang menjalankan praktek neoliberal akan semakin kehilangan kedaulatan ekonomi-politiknya ketika aset-aset milik negara telah dijual habis kepada kapitalis asing.

Dari ciri itu, kita dapat langsung menggolongkan rejim SBY-Kalla sebagai rejim neoliberal. Rejim yang berpihak kepada kepentingan modal-modal besar (mayoritas berasal dari negeri induk kapitalis seperti Amerika Serikat, Jepang, negeri-negeri Eropa Barat, dan Singapura). Rejim ini mendukung pelaksanaan kebijakan neoliberal, karena para pemilik modal di Indonesia tergantung pada pemodal di negeri-negeri induk tadi. Kapitalis Indonesia tidak lain dari kapitalis komprador, atau kapitalis benalu. Golongan kapitalis ini sekedar menjadi pintu dan alat bagi masuk dan menjalarnya modal asing, untuk dilipatgandakan di Indonesia dari eksploitasi kekayaan alam maupun tenagakerjanya.

Siapakah kapitalis Indonesia yang paling banyak menuai keuntungan dari peran komprador tersebut? Tidak lain, di bawah pemerintahan SBY-Kalla, saat ini faksi Yusuf Kalla dan Aburizal Bakrie lah yang paling banyak menuai keuntungan. Mereka perlahan-lahan mulai menggantikan dominasi faksi Cendana serta menyingkirkan faksi lain di kelompok PDIP (Taufik Kiemas dan Arifin Panigoro). Di samping faksi-faksi utama bermodal besar tersebut, terdapat juga faksi-faksi lain bermodal sedang, yang bersandar pada seluruh partai-partai berkuasa. Persaingan mereka dalam memperebutkan kekuasaan (politik) adalah cerminan dari persaingan mereka di lapangan ekonomi.


Perlawanan Rakyat dan Politik Kanalisasi

Sebagai hasil runtuhnya kediktatoran, rakyat memperoleh kebebasan berorganisasi, kebebasan mengeluarkan pendapat, mengikuti pemilihan umum yang lebih demokratis, dan sebagainya. Meski masih dirantai oleh sisa-sisa militerisme serta perkembangan kekuatan reaksioner, kebebasan politik ini tidak dapat dibendung. Demonstrasi atau aksi-aksi protes terus terjadi, seiring organisasi-organisasi rakyat yang terus tumbuh dan berkembang. Mayoritas rakyat yang telah dijadikan korban “massa mengambang” selama Orde Baru, perlahan-lahan kembali terpolitisir dan bahkan terideologisir. Kebebasan politik yang dicapai telah berperan penting memajukan kesadaran politik (daya kritis) rakyat terhadap pemerintahan yang anti rakyat. Namun ternyata, dalam demokrasi ini, rakyat seolah-olah dibebaskan untuk melakukan apa saja, kecuali tindakan yang mengganggu kepentingan akumulasi modal.

Perlawanan rakyat yang terus menusuk tajam ke arah pusat kekuasaan berusaha ditumpulkan dengan ilusi dan janji-janji palsu. Hak rakyat untuk berserikat dan berkumpul dipasifkan pada jalur-jalur yang sudah disiapkan secara legal formal (metode: advokasi kebijakan, rapat dengar pendapat/hearing, penyaluran aspirasi dari tingkat desa/kelurahan, dsb). Partai politik juga harus dibatasi, terus dikurangi sampai tinggal yang terbesar memonopoli negeri ini, karena ini adalah masa transisi menuju kemapanan modal. Gerakan demokratik ter(atau di)pecah-belah sampai tak berdaya, juga untuk kemapanan modal.

Kendati demikian, dalam situasi daya kritis rakyat terus mencari cara untuk memperbaiki kondisinya, kekuatan negara dipaksa untuk memberikan sogokan. Bahkan tak jarang mereka dipaksa untuk berbicara mengenai kepentingan rakyat banyak (populisme), untuk meredam gejolak sekaligus menarik simpati. Tapi hanya sampai pada tingkatan berbicara, tidak pada tindakan yang kongkret. Rakyat yang telah terlatih kritis sangat memahami hal ini; bahwa setelah berkuasa mereka tidak menggunakan kekuasaan tersebut untuk memperbaiki kehidupan rakyat, tapi semata-mata menguatkan kekuasaan mereka dan menggaruk bersih setiap remah modal atau uang rakyat. Tidak terkecuali partai-partai yang mengaku reformis dan pro rakyat. Rakyat semakin tersadar, bahwa yang terpenting adalah sebuah tindakan kongkrit menjalankan program yang menyentuh langsung kebutuhan mereka. Bukan sekedar omongan, atau pun sogokan-sogokan kecil yang tidak memberdayakan potensi rakyat sendiri—seperti program Bantuan Langsung Tunai (BLT), bagi-bagi sembako, dll.


Kebutuhan Obyektif Untuk Bersatu

Di bawah situasi ekonomi-politik yang berbeda saat ini, dalam peran menghadapi persoalan pokok yang baru (neoliberalisme), gerakan demokratik perlu menampilkan peran memimpin seperti pada periode sebelumnya. Gerakan demokratik telah mengambil peran penting dan gemilang dalam perjuangan mengalahkan kediktatoran, dan sekarang diuji pada situasi yang benar-benar baru. Kebangkitan massa rakyat butuh diolah dan diikutsertakan dalam perjuangan politik jangka panjang. Rakyat tidak dapat dibiarkan bergerak secara terpisah-pisah dengan cara dan kemampuan mereka sendiri. Persoalannya adalah, kebutuhan-kebutuhan mendesak tersebut belum dapat dipenuhi oleh kekuatan yang bergerak saat ini.

Kelemahan pokok yang dihadapi gerakan rakyat anti neoliberal saat ini adalah tidak adanya persatuan, dan kelemahan dalam pespektif ideologi-politik. Kelemahan yang baru disadari oleh sebagian kecil unsur gerakan ini berimbas pada menurunnya kemampuan politik gerakan. Musuh terus maju menyerang, sementara gerakan rakyat berjalan di tempat. Tak jarang kita jumpai—karena kelemahan perspektif politik atau karena pragmatismenya, gerakan rakyat justru tersubordinasi di bawah kekuatan-kekuatan politik neoliberal. Situasi semacam ini kerap menimbulkan masalah-masalah subyektif dalam gerakan yang cenderung merugikan.

Bila mencermati keberadaan unsur-unsur gerakan, dapat disimpulkan bahwa secara programatik tidak ada perbedaan yang mendasar. Seluruh unsur bergerak dengan pijakan masalah-masalah yang berhubungan dengan neoliberalisme. Sayangnya, kesamaan pandangan secara programatik ini belum dibarengi dengan kesatuan tindakan (strategi-taktik). Konsekuensi lebih lanjutnya adalah ketiadaan alat perjuangan bersama untuk mencapai tujuan politik strategis.


Alat Politik Bersama Strategis

Menghadapi situasi semacam ini, tidak ada pilihan bagi gerakan rakyat selain membangun sebuah alat politik persatuan yang bersifat strategis. Dengan alat politik persatuan yang bersifat strategis, gerakan rakyat dapat terhindar dari potensi buruk aktivisme, sekaligus memperjelas mercusuar pemandu jalan gerakan.

Pertanyaan kemudian adalah, alat persatuan seperti apa yang sesuai kebutuhan situasi sekarang? Seperti disebut sebelumnya, dalam situasi liberalisasi politik saat ini, semakin banyak saluran-saluran formal yang disediakan oleh rejim penguasa untuk ‘menjinakkan’ radikalisasi rakyat melawan neoliberalisme. Di sisi yang lain, aksi-aksi rakyat terus saja berkontribusi bagi potensi kemajuan kualitas gerakan—yang sewaktu-waktu dapat memporak-porandakan tiap kanal yang dibangun oleh rejim ini.

Oleh karena itu, alat politik persatuan ke depan membutuhkan prinsip-prinsip berikut: pertama, bersifat terbuka sehingga mampu menarik sebanyak mungkin unsur-unsur yang terpisah. Alat ini menerima seluruh unsur yang menyepakati platform anti-neoliberalisme, serta terlibat dalam perjuangan demokrasi. Kedua, mampu memimpin perjuangan rakyat dalam semua lapangan politik, baik dalam lapangan parlamenter maupun ekstra parlamen; ketiga, menjalankan perjuangan strategis berdasarkan platform perjuangan anti neoliberalisme, sehingga mampu menjadi kekuatan politik rakyat yang baru.

Takdir Historis bagi Doktrin Karl Marx

Vladimir Lenin (1913)


Keutamaan doktrin Marx adalah ia memunculkan peran historis kaum proletariat sebagai pembangun masyarakat Sosialis. Sudahkah jalannya kejadian di seluruh dunia memperkuat doktrin ini sejak ia diuraikan oleh Karl Marx? Marx pertama kali mengajukannya di tahun 1844. Manifesto Komunis Marx dan Engels, terbit tahun 1848, memberikan sebuah eksposisi yang integral dan sistematis dari doktrin ini, sebuah eksposisi yang bertahan sebagai yang terbaik hingga hari ini. Sejak itu secara jelas sejarah dunia terbagi menjadi tiga periode utama: (1) dari revolusi 1848 sampai Komune Paris (1871); (2) dari Komune Paris sampai revolusi Rusia (1905); (3) sejak revolusi Rusia.

Marilah kita melihat apa yang telah menjadi takdir dari doktrin Marx dalam masing-masing periode ini.

I.

Pada permulaan periode pertama, doktrin Marx sama sekali tidak mendominasi. Ia hanya satu dari banyak sekali kelompok atau trend sosialisme. Bentuk-bentuk sosialisme yang mendominasi berada dalam keluarga utama Narodisme kita: ketidakpahaman basis materialis mengenai gerakan historis, ketidakmampuan untuk memilih peran dan signifikasi dari tiap kelas dalam masyarakat kapitalis, penyembunyian sifat kaum borjuis mengenai demokrasi di bawah berbagai ragam bentukan ulang, ungkapan-ungkapan kaum sosialis-semu tentang "rakyat", "keadilan", "hak", dan sebagainya.

Revolusi 1848 telah memberikan pukulan mematikan pada bentuk-bentuk sosialisme pra-Marxian yang riuh rendah, warna-warni, serta banyak lagak. Di semua negara, revolusi membuka kedok bagaimana kelas-kelas sosial yang beraneka ragam dalam tindakannya. Penembakan terhadap buruh-buruh oleh borjuasi republikan di Paris dalam Hari-hari Juni 1848 akhirnya menyingkapkan bahwa kaum proletar sendiri yang sosialis. Kaum borjuis liberal takut kemerdekaan kelas ini seratus kali lebih daripada kelas ini melakukan reaksi macam apapun. Kaum liberal terpaksa perlu menyembah reaksi. Kaum tani berisi abolisi dari orang-orang yang bertahan hidup dari feodalisme dan gabungan para pendukung tatanan, tetapi kadang-kadang terombang-ambing antara demokrasi pekerja dan liberalisme borjuis. Semua doktrin mengenai sosialisme tanpa-kelas dan politik tanpa-kelas terbukti omong kosong semata.

Komune Paris (1871) melengkapi perkembangan perubahan borjuis ini; republik, yaitu bentuk dari organisasi politik yang di dalamnya relasi-relasi kelas muncul dalam bentuk yang paling tidak dapat disembunyikan, sepenuhnya berhutang konsolidasinya pada heroisme kaum proletar.

Di dalam semua negara Eropa lainnya, sebuah perkembangan yang lebih kacau dan kurang komplit menimbulkan akibat serupa --sebuah masyarakat borjuis yang telah mmengambil bentuk definitif. Menjelang akhir periode pertama (1848-71) yang merupakan sebuah periode berbagai badai dan revolusi, sosialisme pra-Marxian mati. Partai-partai independen kaum proletar bermunculan: Internasional Pertama (1864-72) dan Partai Sosial-Demokratik Jerman.

II.

Periode kedua (1872-1904) dibedakan dari periode pertama oleh karakternya yang "damai", oleh tiadanya berbagai revolusi. Dunia Barat telah selesai dengan revolusi-revolusi borjuis. Dunia Timur belum muncul ke arah itu.

Dunia Barat memasuki fase persiapan "damai" bagi perubahan yang akan tiba. Partai-partai sosialis, yang secara mendasar proletar, dibentuk di mana-mana dan belajar menggunakan parlementerisme borjuis dan menggunakan terbitan harian mereka sendiri, institusi-institusi pendidikan mereka, serikat-serikat pekerja mereka, dan masyarakat-masyarakat kooperatif mereka. Doktrin Marx memperoleh sebuah kemenangan penuh dan mulai tersebar. Penyeleksian dan pengumpulan kekuatan-kekuatan kaum proletar, serta persiapannya untuk menghadapi pertempuran yang akan tiba mencapai kemajuan-kemajuan secara lambat tapi mantap.

Dialektika sejarah adalah sebagaimana bahwa kemenangan teoritis dari Marxisme memaksa musuh-musuhnya menyamarkan diri mereka sebagai kaum Marxis. Liberalisme, bosok di dalam, mencoba untuk membangkitkan kembali dirinya dalam bentuk oportunisme sosialis. Mereka menafsirkan periode penyiapan kekuatan-kekuatan untuk pertempuran-pertempuran besar sebagai penolakan terhadap pertempuran-pertempuran ini. Kemajuan kondisi-kondisi kaum budak untuk melawan perbudakan upah kerja mereka ambil dalam pengertian penjualan hak atas kemerdekaan oleh para budak demi uang dalam jumlah kecil. Mereka berlutut dan memohon adanya "perdamaian sosial" (yaitu perdamaian dengan para pemilik budak), penolakan atas perjuangan kelas, dan lain sebagainya. Mereka memiliki amat banyak pengikut di tengah kaum sosialis yang menjadi anggota parlemen, beraneka pejabat dalam gerakan kelas pekerja, dan kaum cendekiawan yang "bersimpatik".

III.

Bagaimanapun, kaum oportunis hampir tidak mungkin memberi ucapan selamat pada diri mereka sendiri atas "perdamaian sosial" dan atas pergolakan-pergolakan yang tidak-merupakan-keharusan di bawah "demokrasi" ketika sebuah sumber baru dari pergolakan besar dunia terbuka di Asia. Revolusi Rusia diikuti oleh revolusi di Turki, Persia, dan Cina. Dalam era yang penuh badai dan "akibat-akibat" darinya di Eropa inilah kita sekarang hidup. Tidak masalah nasib apa dari Republik Cina Besar melawan berbagai macam hyena "beradab" yang sekarang tengah mengasah gigi geligi mereka, tak ada kekuatan di atas bumi dapat menempatkan kembali perbudakan yang lama di Asia ataupun memusnahkan demokrasi yang heroik dari massa di negara-negara Asiatik dan negara-negara semi-Asiatik. Orang-orang tertentu, yang kurang memperhatikan kondisi-kondisi bagi persiapan dan perkembangan perjuangan massa, terperosok dalam keputusasaan dan anarkisme akibat penundaan panjang dalam perjuangan yang menentukan melawan kapitalisme di Eropa. Sekarang kita dapat melihat bagaimana gelap mata dan patah arangnya keputusasaan kaum anarkis ini.

Fakta bahwa Asia, dengan populasinya 800 juta jiwa, telah terseret ke dalam perjuangan demi ideal-ideal yang sama dengan halnya ideal yang diimpikan oleh orang Eropa, harus menginspirasi kita dengan optimisme dan bukan keputusasaan. Revolusi-revolusi Asiatik telah memperlihatkan lagi kepada kita tentang lemah lunglainya dan betapa rendah budinya liberalisme, kepentingan khusus mengenai kemerdekaan massa demokratik, dan demarkasi yang harus diucapkan dengan jelas antara kaum proletar dengan segala jenis borjuasi. Setelah pengalaman baik Eropa dan Asia, sembarang orang yang bicara mengenai politik-politik non-kelas dan sosialisme non-kelas, selayaknya tanpa basa basi diletakkan dalam sebuah kandang dan dipamerkan berdampingan dengan kanguru-kanguru Australia atau makhluk sejenis itu.

Setelah Asia, Eropa juga telah mulai bangkit, meskipun tidak dengan cara Asiatik. Periode "damai" dari 1872-1904 telah berlalu dan tak akan pernah kembali. Tingginya biaya hidup dan tirani dari perseroan-perseroan sedang menimbulkan penajaman yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam perjuangan ekonomi, yang telah menjadi gerakan bahkan para buruh Inggris yang telah paling dikorup oleh liberalisme. Kita melihat sebuah krisis politik timbul bahkan di Jerman, negara Junker-borjuis yang paling "keras kepala". Persenjataan dan kebijaksanaan yang hingar bingar dari imperialisme membelokkan Eropa modern ke dalam sebuah "kedamaian sosial" yang lebih mirip sebuah tong mesiu. Bersamaan dengan pembusukan partai kaum borjuis, pematangan kaum proletar membuat kemajuan yang mantap dan terus menerus.

Sejak kemunculan Marxisme, tiap periode dari tiga periode besar sejarah dunia telah membawa konfirmasi baru serta kemenangan-kemenangan baru kepada Marxisme. Tetapi masih ada sebuah kemenangan lebih besar menantikan Marxisme, sebagai doktrin kaum proletar, dalam periode sejarah yang akan tiba.


Diterbitkan dalam Pravda No. 50, 1 Maret 1913

Diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris oleh Stepan Apresyan (1963).

Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Anonim (November 1998)
Diterjemahkan dari teks dalam Marxists' Internet Archive